Mutiara pak Noor
Mutiara Pak Noor
“
Dikala engkau meninggalkan riya’
sebab takut dianggap riya’, kala itu
pula engkau sedang berbuat riya’ ”. mungkin wejangan itu yang
selalu mengiringi pola pikirku, apalagi di eraku saat ini, putih tak lagi
nampak putih dan hitam tak lagi terlihat hitam.
Di bagian tengah lantai bawah bangunan tua
persegi empat yang terdiri atas dua lantai dan sudah terlihat lapuk akibat
termakan usia, terlihat dari kulit tembok yang mulai mengelupas, dan terasa
rapuh saat disentuh, namun masih sangat kuat untuk menampung beberapa santri
yang menempati bangunan pertama Ponpes APIK yang bernama al-Irfan ini, aku
mencoba bertafakkur menyelami luas dan dalamnya nurani.
Oke,
namaku Faruq lengkapnya Ahmad Faruq. Besok
tepatnya tanggal 8 januari 2017 pondok ini akan memperingati haul KH. Ahmad Ru’yat,
pengasuh Pondok Pesantren Salaf APIK Kaliwungu Kendal, dimana nanti para alumni
akan hadir memenuhi pondok pesantren ini.
Diantara
para alumni, ada satu alumni yang sangat aku tunggu-tunggu kehadiranya, ia
orang yang hebat lebih hebat dari Naruto atau Sasuke sekalipun. Namanya pak Nooruddin
atau biasa dipanggil pak Noor, eh tapi tunggu dulu! Walaupun dia aku bandingkan
dengan Naruto dan Sasuke, bukan berarti dia menguasai kagebushin no jutsu atau
memiliki mata sharinggan. Dia punya kehebatan tersendiri dengan seribu keanehan
atau yang biasa aku sebut keramat.
“
Kang! Apa pak Nooruddin sudah datang, alumni yang dari kendal? ”
Tanyaku
kepada santri yang bertugas sebagai penerima tamu.
“
sudah kang, tadi dia bilang mau menemui temannya di kamar 64 komplek
ar-Ridlwan”.
“
oh iya kang terimakasih infonya”.
Seperti
tanpa menunggu komando otak, kakiku langsung melangkah menuju kearah kamar 64
ar-Ridlwan. Ditengah-tengah langkahku untuk menemui pak Nooruddin aku teringat kisah
teman-teman tentang beliau.
* * * * *
“
hai! Dengarkan nih, Pada waktu itu setelah buang air kecil aku berencana ingin
sowan ke kamar pak Nooruddin untuk curhat masalah pelajaran yang belum aku
pahami”.
Dialah
Abdul salah satu temanku yang memulai bercerita tentang pak Nooruddin.
“akan
tetapi setelah aku sampai di depan pintu kamarnya, saat ku ketuk pintu dan
kuucapkan salam tidak terdengar jawaban salam atau jawaban apapun dari dalam
kamar dan terlihat sepi alias tidak ada orang. Akhirnya selang beberapa lama,
aku memberanikan diri membuka pintu kamarnya. Setelah kubuka pintu kamarnya;
subhanallah”.
Abdul
berhenti sejenak sambil menggelengkan kepalanya, mungkin itu akibat tuntutan
intonasi cerita, atau mungkin gerak reflek khusyuk saat bicara.
“Kitab
pak Noor yang masih terbuka dan tergeletak diatas meja, bergerak-gerak sendiri
layaknya ada yang menggerak-gerakannya. Aku ingat waktu itu tepat jam 22:00 WIB,
dan akhirnya aku tutup kembali pintu kamarnya dan berlari menjauh dari situ”.
Dengan
raut wajah horornya dan tatapan tajam matanya, Abdul mencoba meyakinkan para
pendengarnya termasuk aku.
Tidak
hanya Abdul, Syamsul yang juga sedang duduk disitu pernah mengalami hal aneh
tentang pak noor.
“kang
brow! Waktu itu, saat aku dan teman-teman tengah mengikuti pelajaran pak Noor
di kelas kalau tidak salah waktu aku kelas tiga tsanawiyah, beberapa dari kami
ada yang sedang asyik bicara sendiri dan bergurau, sehingga kelas tidak
kondusif dan ramai. Ditengah-tengah keramaian kelas tiba-tiba pak Noor
menggedor meja, dan seketika itu kitab yang ada di atas meja terbang seperti
dilempar keatas, lalu jatuh lagi kemeja. Waktu itu aku dan teman-teman tidak
menyadari akan keanehan tersebut, yang kami rasakan hanya ketakutan dari kemarahan
pak Noor”.
Sambil
menyedot sebatang rokok yang paling tinggal satu sedotan itu, yang diapit di
sela-sela jari telunjuk dan jari tengahnya, ia berhenti sejenak dan menutup
matanya seakan-akan ia sedang kembali kemasa itu dalam gelapnya katup pelupuk
mata.
“setelah
pelajaran selesai aku mencoba melakukan seperti yang tadi dilakukan pak Noor,
akan tetapi saat aku gedor meja yang sama, kitab yang sebelumnya aku letakkan
di atasnya tidak bergerak sedikitpun, apalagi terbang. Padahal aku sudah
menggedor meja itu dengan sekuat tenagaku dan kulakukan berulang kali”.
“waduuh!
Apa jangan-jangan pak noor itu sebenarnya seorang wali ya? ”.
Syukron
yang sedari tadi diam dan menjadi pendengar setia tiba-tiba menceletuk seperti
itu, maka tersentaklah pikiran kami semua.
“heeh,
benar itu dan semua kejadian-kejadian aneh itu merupakan karamah yang Allah
berikan kepada pak Noor”.
Dengan
cepat Syamsul membenarkan ucapan Syukron seperti ia benar-benar yakin kalau pak
Noor memang seorang wali. Syamsul lupa kalau ada ungkapan; tidak akan
mengetahui kewalian seseorang, kecuali dia adalah seorang wali pula. Dengan ia
membenarkan bahwa pak Noor adalah wali sama saja dia mengatakan dirinya itu
wali.
Setelah
itu keheningan menyelimuti kami, karena masing-masing dari kami terjebak dalam
lamunanya sendiri-sendiri, menebak-nebak kemungkinan benar-tidaknya ucapan
Syukron.
* * * * *
Tak
terasa dalam lamunanku tentang pak Nooruddin, aku sudah sampai di depan kamar
64 terlihat dari arah pintu kamar pak Noor yang duduk-duduk dengan temannya
sedang asyik bercengkerama dan bernostalgia.
Sebenarnya
aku sudah tidak sabar ingin bertanya kepadanya kenapa beliau bisa sehebat dan
sekeren itu, akan tetapi rasanya tidak sopan apabila aku menggangu kenikmatan
nostalgia beliau dengan teman-temannya.
Waktu
berlalu cukup lama kurang lebih setengah jam aku bersabar duduk didepan kamar
64. Berfikir apakah kutemui beliau nanti atau sekarang?. Didalam otaku
bertarung dua ide yang saling bertentangan antara rasa penasaran yang
mendorongku untuk masuk saja, dan rasa ta’dhim
yang menyuruhku untuk bersabar dan menemuinya nanti.
Tak
lama kemudian, akhirnya pak Noor melihatku lalu memanggilku.
“
Faruq, sini nang duduk sini! Sedang apa di depan situ?”
“iya
pak”
Jawabku
dengan nada gugup karena pak Noor tiba-tiba memanggilku saat melihatku, lalu
akupun masuk dan duduk di samping kanan beliau.
“
e... anu pak saya mau tanya boleh?”
“emang
sejak kapan bertanya dilarang? hahaha”
“
hehehe, anu pak apakah panjenengan itu wali?”
Setelah
diam lumayan lama mendengar pak Noor berbincang-bincang, dengan nada gemetar dan pertanyaan lugu aku
memberanikan diri bertanya kepada pak Noor yang menurutku sangat berwibawa itu.
“hahaha....wali?,
Faruq itu yang wali, tapi nanti setelah punya istri dan anak, kamu akan jadi
wali, wali santri. Hehehe”.
Pak
Noor menjawab dengan jawaban yang tidak serius, seakan ingin membelokan
pertanyaan, dan seketika itu pula meledaklah tawa orang-orang yang ada disitu.
Bayangkan betapa malunya aku. Aku terlihat sangat lugu seperti anak TK yang
baru mengenal sekolah, entahlah apa yang membuat mereka tertawa, mungkin karena
jawaban pak Noor yang lucu atau pertanyaanku yang super lugu, padahal aku sudah
kelas dua aliyah, dan sudah diajarkan mantiq disitu, payah.
Setelah
beberapa detik dibawah bayang-bayang rasa malu yang yang begitu mencekik sampai
tak terasa tubuhku basah oleh keringatku sendiri, pak Noor melanjutkan
jawabanya.
“masalah
akan menjadi seorang wali atau bukan, hendaklah jangan menjadi alasan ketika
kita ingin beramal atau mencari ilmu. Tidak terlepas dari itu, saat ini banyak
orang-orang yang sibuk membandingkan derajat di sisi Allah antara dirinya
dengan orang lain, sehingga dia menginginkan sesuatu yang beda dengan orang
lain. Seperti tampak pandai tanpa belajar, dia tidak mau ketika temanya melihat
dirinya sedang belajar, karena pandai dengan belajar adalah hal yang wajar di
dunia ini, bukankah begitu Faruq?.
Aku
hanya bisa menunduk dan mengangguk mendengarkan penuturan beliau, dibalik
jawabannya tadi yang terkesan meremehkan ternyata pak Noor ingin memberikan
mutiara yang sangat berharga kepadaku.
Orang
yang ikhlas adalah orang yang tidak menginginkan balasan apapun darinya ketika
beramal, melainkan orang yang selalu berpikir apa saja yang sudah aku lakukan
atau aku berikan untuknya”.
“perbuatan
yang kita anggap sebagai upaya menjauhi riya’
seperti mau belajar kalau dalam sepi. Ternyata dibalik perilaku tersebut
terbesit perasaan senang saat dianggap sebagai orang yang tawadu’ atau rendah hati. Padahal rasa senang itulah yang disebut
pamer atau riya’ ”.
Aku
mulai mengerti apa yang dimaksud dari perkataan pak Nooruddin bahwasanya apapun
yang hendak kita lakukan kalau sudah sesuai dengan syareat dan moral maka
lakukanlah. Jangan pikirkan apa yang menjadi prasangka orang lain kepada kita,
dan apa yang akan Allah berikan kepada kita sebagai bentuk balasan dari amal
baik kita. Karena itu bukan termasuk bagian dari urusan kita sebagai makhluk.
Kendal
06 Januari 2017
Mukhamad
Ali Masruri
Wow
BalasHapus