Postingan

Menampilkan postingan dengan label esai

Mengenang Tjokroaminoto Untuk Perbaikan SDM

Mengenang Tjokroaminoto Untuk Perbaikan SDM Hari Minggu tanggal 17 Desember 2017 adalah hari wafatnya Tokoh yang memiliki nama besar pada masanya, yakni pemimpin organisasi Islam terbesar se Hindia Belanda, Sarekat Islam (SI), H.O.S Tjokroaminoto. Sebelumnya maaf jika tulisan ini lumayan terlambat hadir sebagai simbol respon refeksi dari Tokoh besar tersebut. Akan tetapi melihat dari satu kaidah “jika tidak bisa melakukan dengan sempurna maka jangan tinggalkan semuanya,” saya tetap menulisnya, minimal ini masih dikatakan tanggal 17 Desember menurut penanggalan Masehi, (pkl 22.59, 17/12). Ada satu ungkapan yang seharusnya menyetuh hati para pengembara kemakmuran bangsa, ini kata Tjokroaminoto “Adapun yang menjadi dasar pengertian sosialismenya Nabi Muhammad yaitu kemajuan perikeutamaan dan kemajuan budi pekerti rakyat. Umat Islam adalah orang yang cakap sekali dalam melakukan kehendak sosialisme yang sejati itu.” Tjokroaminoto sangat mendambakan sebuah kemajuan perikeutamaan da...

Revitalisasi Progresifitas Kajian Fikih Santri Salaf

Revitalisasi Progresifitas Kajian Fikih Santri Salaf Melihat kenyataan hari ini, di mana saya mulai mengenal banyak persoalan dan istilah yang bermunculan pada dunia era post modern, saya jadi berpikir bahwa seharusnya para santri yang konsen di dalam pendidikan Islam ala pesantren mulai harus diperkenalkan dengan kenyataan persoalan-persoalan yang terjadi di sekitar mereka. Contoh saja istilah yang hari ini sedang santer diperbincangkan di kalangan intelektual Islam kontemporer seperti Abdullah Saeed yakni “Muslim Progresif.” Saeed mengatakan “muslim kontemporer harus dapat menyelesaikan persoalan hidupnya dengan menggunakan metodologi keilmuan kontemporer sekaligus melakukan reinterpretasi nash-nash atau konstruksi pemikiran muslim masa lampau.”   Ealah, persoalan diksi dalam sebuah istilahnya saja sudah sangat membingungkan bagi seorang santri salaf, apa itu reinterpretasi, dan juga, siapa itu Abdullah Saeed? Saat saya membayangkan   apabila posisi saya masih pa...

Gak Penting HASAN Lahir dari Rahim Siapa

Gak Penting HASAN Lahir dari Rahim Siapa Tanggal 22 oktober 2017 ini para santri akan merayakan Hari Santri Nasional (HASAN) yang ke-3, setelah dideklarasikan oleh Presiden Jokowi pada tanggal 22 oktober 2015 silam. Kalau boleh kita flasback empat tahun yang lalu, rasanya jadi lucu saja kalau kita ingat insiden gokil di balik suksesnya deklarasi Hari Santri Nasional. Ini sepertinya bisa jadi anekdot jika dinarasikan sekali lagi, eh tapi bukan bermaksud ghibah lho ya. "Jokowi janji 1 Muharam hari santri. Demi dia terpilih, 360 hari akan dijanjikan ke semua orang. Sinting!" masih ingatkah dengan twit yang satu ini? Twit yang terdiri dari kurang lebih 140 karakter ini sempet jadi geger dan cukup membuat garuk-garuk kepala pemilik akunnya. Bagaimana tidak, alih-alih ingin mengkritisi Presiden, eh masih calon presiden pada waktu itu, malah ibarat bumerang lupa tuannya. Lucunnya adalah bagaimana di salah satu media berita online meliputnya dengan judul “Hari Santri ...