Mengenang Tjokroaminoto Untuk Perbaikan SDM
Mengenang Tjokroaminoto Untuk Perbaikan SDM
Hari Minggu tanggal 17 Desember 2017 adalah hari wafatnya Tokoh
yang memiliki nama besar pada masanya, yakni pemimpin organisasi Islam terbesar
se Hindia Belanda, Sarekat Islam (SI), H.O.S Tjokroaminoto. Sebelumnya maaf
jika tulisan ini lumayan terlambat hadir sebagai simbol respon refeksi dari Tokoh
besar tersebut. Akan tetapi melihat dari satu kaidah “jika tidak bisa melakukan
dengan sempurna maka jangan tinggalkan semuanya,” saya tetap menulisnya,
minimal ini masih dikatakan tanggal 17 Desember menurut penanggalan Masehi,
(pkl 22.59, 17/12).
Ada satu ungkapan yang seharusnya menyetuh hati para pengembara kemakmuran
bangsa, ini kata Tjokroaminoto “Adapun yang menjadi dasar pengertian
sosialismenya Nabi Muhammad yaitu kemajuan perikeutamaan dan kemajuan budi
pekerti rakyat. Umat Islam adalah orang yang cakap sekali dalam melakukan
kehendak sosialisme yang sejati itu.” Tjokroaminoto sangat mendambakan sebuah
kemajuan perikeutamaan dan budi pekerti rakyat, saya berpikir perikeutamaan
yang dimaksud Tjokro adalah sebuah keunggulan SDM atau kalau meminjam istilah
pertanian adalah menciptakan bibit unggul. Hal ini menjadi sangat penting saat
kita melihat dari turunan hasil sebuah SDM yang unggul dan ditambah sebuah budi
pekerti.
Sebelum melanjutkan pembicaraan tentang kemajuan perikeutamaan sepertinya
kita perlu melihat pula ungkapan Pramoedya “Hanya karena kurangnya unsur
kemajuan, apalah kemudian arti persatuan tanpa kemajuan?, (normantis.com). Jika
kita kaitkan dengan ungkapan Tjokro, maka hasilnya adalah keunggulan SDM sebuah
bangsa dapat diukur dari seberapa pesat kemajuan yang diperlihatkan dari bangsa
tersebut.
Masih kata Pram, apa arti sebuah persatuan tanpa kemajuan,
terkadang bangsa kita masih silau dengan sebuah kuantitas yang besar.
Organisasi akan dikatakan besar dan hebat manakala memiliki kuantitas anggota
yang besar pula, sehingga lupa akan kualitas SDM-nya. Padahal logikanya Bulan
akan tetap lebih terang dari bintang-bintang walaupun satu banding seribu. Kita
tahu bangsa yahudi mampu menjadi bangsa yang disegani oleh dunia bukan karena
kuantintasnya tetapi kualitasnya.
Moment 17 Desember yang akrab di kalangan para intelektual atau
pelajar, mestinya dijadikan momentum untuk muhasabah diri, mengapa sampai saat
ini dengan usia kemerdekaan semakin tua kita masih merasa menjadi bangsa yang
tertinggal, maaf, ini terlepas dari berbagai perspektif tentang memaknai sebuah
arti ketertinggalan tersebut.
Kontruksi perspektif dalam lingkup kehidupan sosial, memang sering
membelenggu sebuah kebebesaan berpikir untuk melintasi batas-batas yang
terbangun entah ini dikatakan secara alami atau buatan para pemikul
kepentingan. Coba kita renungkan sebentar, kita sering merasa nyaman hanya
dengan mengingat cerita romantisme para pendahulu, hingga terlena dan
melahirkan stagnasi kehidupan.
Bagi seorang Tjokroaminoto mengejar tujuan hidup yang lebih tinggi
adalah sesuatu yang tidak bisa ditawar-tawar lagi, begini kata Tjokro “Sosialisme
bisa menjadi sempurna apabila tujuan hidup dari tiap-tiap manusia tidak hanya
untuk mengejar keperluan dan kesenangan biasa, ialah keperluan dan kesenangan
yang ada di dalam dunia ini, tetapi tiap-tiap manusia hendaklah juga mengejar
tujuan hidup yang lebih tinggi,” (Tjokroaminoto, 1963:72).
Dalam persoalan interpretasi sebuah teks, saya mengartikan yang
dikehendaki oleh Tjokro tentang “tujuan hidup yang lebih tinggi” adalah proses
perjalanan hidup yang mengarah pada kemajuan bukan stagnan, oleh karena itu
sebuah kebodohan kiranya jika seorang individu hanya bangga terhadap apa yang
telah ia dapatkan tanpa menengok kanan-kirinya yang terus berjalan bahkan
berlari tanpa berhenti.
Selama ini saya lihat persoalan yang sesungguhnya sedang diderita
oleh diri kira adalah kurangnnya kesadaran akan pengetahuan dan kejujuran
terhadap diri-sendiri. Alhasil kita terlena terhadap kenikmatan fatamorgana
yang telah menyihir akal dan hati kita sebagai layaknya manusia yang mestinya
berpikir. Bukankah kita sangat akrab dengan ungkapan bahwa “al-insanu
hayawan an-nayiq” manusia adalah hewan yang berpikir. Bergerak tanpa
berpikir adalah konyolisasi, sedangkan berpikir tanpa bergerak adalah
halusinasi.
Komentar
Posting Komentar