Gak Penting HASAN Lahir dari Rahim Siapa
Gak Penting HASAN Lahir dari Rahim Siapa
Tanggal 22 oktober 2017 ini para santri akan merayakan Hari Santri
Nasional (HASAN) yang ke-3, setelah dideklarasikan oleh Presiden Jokowi pada
tanggal 22 oktober 2015 silam. Kalau boleh kita flasback empat tahun
yang lalu, rasanya jadi lucu saja kalau kita ingat insiden gokil di balik
suksesnya deklarasi Hari Santri Nasional. Ini sepertinya bisa jadi anekdot jika
dinarasikan sekali lagi, eh tapi bukan bermaksud ghibah lho ya.
"Jokowi janji 1 Muharam hari santri. Demi dia terpilih, 360
hari akan dijanjikan ke semua orang. Sinting!" masih ingatkah dengan twit
yang satu ini? Twit yang terdiri dari kurang lebih 140 karakter ini sempet
jadi geger dan cukup membuat garuk-garuk kepala pemilik akunnya. Bagaimana
tidak, alih-alih ingin mengkritisi Presiden, eh masih calon presiden pada waktu
itu, malah ibarat bumerang lupa tuannya.
Lucunnya adalah bagaimana di salah satu media berita online
meliputnya dengan judul “Hari Santri Nasional Ada Berkat Jasa Fahri Hamzah” mungkin
ada benarnya juga, tapi ya gak harus pake kata ”jasa” kali, soalnya Fahri itu
kan merupakan bagian dari tim lawan politik Jokowi. Saya rasa Fahri lupa kata
pepatah “semakin tinggi pohon maka akan semakin kencang angin menerpanya.”
Janji Jokowi untuk menjadikan 1 Muharam sebagai HASAN, pada
mulanya, sebelum akhrinya lebih memilih 22 Oktober, sepertinya merupakan
strategi yang membawa bejo pada karir politiknya. Kontrak politik yang
ia lakukan dengan pengasuh ponpes Babussalam tentang HASAN melambung tinggi dan
mendapatkan perhatian rakyat karena blunder Fahri, atau mungkin memang bantuan
jasa darinya.
Bisa saja, dikatakan secara politis kalau HASAN itu merupakan anak
kandung dari pasangan muda antara kontrak politik Jokowi dengan blunder twit
Fahri, yang akhirnya melahirkan anak yang luar biasa cakep. Ini bisa jadi
problem kalau dipandang dengan persepektif tasawuf, tapi ya sudahlah,
saya rasa generasi santri milenial punya cara tersendiri dalam memandang.
Akan tetapi masalah Hari Santri itu lahir dari rahim kontrak
politik dan dukungan jasa salah sasaran dari Fahri, atau apalah itu, sepertinya
tidak penting bagi para santri. Terpenting bagi santri adalah dimana mereka
bisa berefleksi sambil bersukaria, dan ini sekaligus momen untuk melepas penat
atau refreshing dengan dibebaskan untuk keluar dari jeruji penjara
sucinya.
Saya jadi teringat waktu dulu, bagaimana untuk melihat keadaan kota
Kendal atau Semarang saja begitu sulit. Harus membutuhkan formasi yang tepat,
agar memenagkan kompetisi kucing-kucingan dengan keamanan pondok pesantren.
Dengan adanya HASAN, saya bisa dengan santainya keluar melewati pintu gerbang
sambil sedikit melempar kerling dan senyum kemenangan kepada keamanan yang
sedang duduk-duduk di sekitar pintu gerbang.
Soal perjuangan refreshing dan jalan-jalan adalah bagian
dari romantisme kehidupan santri yang sayang untuk diabaikan, yang terpenting,
itu juga merupakan proses pendewasaan, kesabaran, dan cara bersyukur dalam
setiap kejadian.
Semoga saja 22 oktober ini bisa dijadikan sebagai momentum untuk
memupuk semangat juang yang diwariskan oleh Kyai Hasyim Asy’ari dan para
santrinya lewat resolusi jihad. Responsif yang cepat dari seorang pengasuh
pesantren dalam melakukan perlindungan terhadap tanah airnya menjadi bukti
legal, bahwa pondok pesantren akan terus melahirkan para pandega pembela tanah
air.
Saya juga bisa merasakan, bagaimana seorang anak yang setidaknya
pernah merasakan pendidikan dan riuhnya lingkungan pondok pesantren, cenderung
menjadi lebih dewasa dari pada yang tidak sama sekali. Mengapa bisa begitu?
Lagi-lagi ini soal moral dan kesederhanaan, bahwasanya di pondok
pesantren sangat dikedepankan masalah moral, sopan santun, dan desaign sederhana
lingkunganya. Jauh dari orang tua, belajar mandiri, berusaha menyelesaikan
konflik sendiri tanpa bantuan orang tua, dan masih banyak lagi pendidikan yang
ditawarkan pondok pesantren.
Kembali lagi ke sosok anak yang bernama HASAN, yang diharapkan akan
tetap menjadi momentum cakep dan mampu menjadi penyuplai semangat perjuangan
dalam belajar untuk menjadi generasi santri yang berintelektual dan cinta tanah
air. Deklarasi HASAN merupakan progresifitas dunia pendidikan pondok pesantren
setelah sekian lama dianak tirikan oleh pemerintah.
Oke, bukan kami para santri bermaksud tidak ikhlas dan merasa jadi
anak tiri negeri, tapi ya. Sudahlah yang terpenting 22 Oktober ini adalah
momentum bagi kami untuk unjuk gigi dengan membawa nama Indonesia, bahwa kami
ada dan kami membawa Islam yang ramah budaya lokal dan hubbul wathon adalah
lagu kami.
Komentar
Posting Komentar