tentang gusdur
Mengingat Siapa Gusdur
Gus
Dur atau yang sebenarnya bernama asli Abdurrahaman Adakhil adalah tokoh agama
Islam yang dikenal dengan sebutan Bapak Pluralisme. Beliau lahir pada pada 7 September 1940 dari pasangan suami istri Wahid
Hasyim dan Solichah. Dia merupakan cucu dari orang terhormat yang merupakan
pendiri Ormas Islam terbesar di Indonesia, yakni KH. Hasyim Asy’ari.
Kendati
merupakan keturunan dari orang besar dan terhormat itu tidak menjadikanya
sebagai anak yang pemalas dan suka berhura-hura. Gus Dur justru dikenal sebagai
anak yang memiliki obesitas terhadap ilmu. Semua itu terlihat dari kegemaranya
membaca literatur, mulai dari kitab-kitab agama, sampai pada buku-buku yang
mengupas pemikiran-pemikiran orang barat.
Gus
Dur adalah orang NU yang moderat dalam pemikiran, beliau juga orang yang sering
berdiskusi bersama beberapa orang dengan berbagai latar belakang yang berbeda,
oleh karena itu Gus Dur sangat memahami keanekaragaman masyarakat Indonesia.
Maka tidak heran kalau beliau sangat menjunjung tinggi pluralisme.
Pemikiran Gus Dur
Menurut
Gusdur keanekaragaman itu sesuatu yang wajar, sehingga tidak perlu
dipermasalahkan apalagi ingin dijadikan satu kesatuan yang sama. Akan tetapi
Gus Dur juga menyadari pluralisme yang ada di Indonesia apabila dikaitkan
dengan urusan agama dan demokrasi akan menimbulkan masalah yang cukup serius
dan rumit, apalagi bila melihat dari nilai-nilai dasar keduanya.
Dalam
demokrasi setiap orang boleh memilih keyakinanya sehingga ia berhak pindah agama
sesuai dengan kehendaknya. Berbeda dengan agama, dalam Islam seseorang yang
keluar dari Islam dan pindah agama itu berarti sebuah penolakan terhadap Islam
dan harus dibunuh. Contoh pebedaan yang lain adalah di dalam Islam orang yang
sudah menikah apabila melakukan zina maka harus dibunuh dengan dilempari batu
di kepalanya, pada sisi lain demokrasi memandang bahwa tindakan pelemparan batu
itu dirasa kurang manusiawi.
Dengan
memperhatikan hal itu agama harus melakukan transformasi. Mengubah cara pandang
dalam memahami agama terlebih berada di negara yang masyarakatnya heterogen.
Mencari titik temu agar terwujudnya
integrasi antara agama dan negara. M. Syafi’i Anwar mengatakan, Gusdur pernah
berkata “tidak boleh memaksakan syareat di negara yang masyarakatnya heterogen.
Perubahan
pemahaman cara pandang yang terkesan eksklusif bisa dirubah dengan melihat
ayat-ayat yang menjadi pokok nilai agama islam. Seperti ayat yang menjelaskan “Tiadalah Ku-utus Engkau Ya
Muhammad, kecuali sebagai pembawa persaudaraan bagi umat manusia (wa ma arsalnaka illa rahmatan li al-alamin)”
(QS al-Anbiya {21}, {107}). Maka dari itu Gus Dur memandang perlunya perhatian
terhadap ayat-ayat dalam Al-Quran. yang menjelaskan tentang pluralisme seperti
misal ayat lain yakni “Tidak ada paksaan dalam beragama, karena telah jelas
mana yang lurus dan mana yang palsu” (QS al-Baqarah {2}).
Gus
Dur adalah Bapak Pluralisme sekaligus Guru Bangsa. Beliau selalu mengajarkan
pentingnya toleransi dan perdamaian demi menjaga keutuhan NKRI. Tanpa terwujudnya negara yang damai manusia tidak
akan mampu untuk menjalankan perintah agamanya. Betapa dulu Rasulullah saw
sangat menjaga negara Madinah dan menganggap perbedaan sebagai hal yang wajar.
Anekdot
Memang
kalau berbicara tentang sosok seorang Gus Dur itu seakan tidak ada habisnya,
mulai dari kecerdasanya, pemikiranya yang nyentrik, anekdot tentang dirinya dan
keanehan perilakunya. Namun yang paling luar biasa disini adalah anekdotnya
yang memang terkesan menggelitik namun mendidik.
Pernah
terjadi dalam sebuah acara yang bertema “Satu Jam bercanda Bersama Gus Dur”.
Dalam acara tersebut Gus Dur memberikan sebuah petanyaan kepada audiensi dan
barang siapa yang bisa menjawab akan diberi hadiah oleh Gus Dur sebesar lima
juta rupiah, akan tetapi setelah ada yang mampu menjawab pertanyaan Gus Dur
malah tidak memberi hadiah apapun. Akhirnya penonton yang berhasil menjawab
tersebut mendatangi Gus Dur dan menagih janjinya, namun Gus Dur menjawab dengan
gaya khasnya “kemarin itu tema acaranya kan Satu Jam Bercanja Bersama Gus Dur,
jadi apa yang saya katakan berarti bercanda, soalnya inti acaranya bercanda”.
Dalam
anekdot tersebut memberi sebuah pelajaran, agar masyarakat bisa lebih teliti
dalam memahami pada setiap kondisi, supaya tidak mudah tertipu akibat dari
kuarngnya ketelitian dalam memahami sesuatu, baik itu berupa situasi sosial
maupun dalam bentuk memahami sebuah literatur.
Komentar
Posting Komentar