toleransi agama
Toleransi, Haruskah
Banser Jaga Gereja?
Oleh
: Mukhamad Ali Masruri
Berawal
dari sebuah pertanyaan apakah toleran itu ada batasanya?, tentu jawabannya ada,
lalu sebatas mana toleran itu boleh dilakukan?. Sebenarnya pertanyaan tersebut
tidak seglobal itu, melainkan sebuah batu loncatan untuk menanyakan mengapa
banser NU bersedia atau mau menjaga gereja saat hari natal dan mungkin hari
besar Kristen lainya pada bulan-bulan kedepannya?.
Sebenarnya, apabila yang bertanya adalah orang
awam jawabannya bisa saja sederhana, akan tetapi jika yang bertanya adalah
orang yang berilmu atau berpengetahuan maka jawabanya bisa menjadi rumit dan
panjang penjelasanya, terlebih jikalau mereka merupakan orang-orang yang
bertanya dengan pandangan skeptis.
Saya
jadi teringat ketika guru agama saya mengajar dulu, beliau bercerita, pada saat
dia ditanya oleh seseorang tentang amalan orang NU, mengapa orang NU ketika
mengantar jenazah, mereka melafadlkan dzikir padahal hal itu tidak terdapat
dalam Al-Quran maupun Hadist?. Oleh karena orang yang bertanya adalah orang
yang tidak bermaksud bertanya melainkan menyalahkan, maka beliau menjawab
dengan sebuah pertanyaan, lebih baik mana antara orang yang berjalan dan
mulutnya diam dengan seseorang yang berjalan dan mulutnya berdzikir?.
Kalau
saya boleh katakan, bahwa Islam itu adalah agama yang tidak membosankan
melainkan agama yang menyenangkan maka apakah pembaca setuju dengan saya?.
Penjelasanya adalah apabila ada orang muslim merasakan kejenuhan ketika setiap
hari yang yang dibaca selalu Al-Quran dan Hadist, maka apa yang harus dia baca
ketika tidak ada bacaan yang lain untuk
umat muslim. Padahal sudah menjadi watak manusia, ia akan bosan apabila
dihadapkan dengan sesuatu yang bersifat monoton.
Di
dalam NU, warga Nahdliyyin memiliki banyak bacaan dalam beragama tidak hanya
Al-Quran dan Hadist seperti manaqib, tahlil, rawatib, dan dzikir-dzikir yang
lain. Itu semua bukan berarti bermula dari sebuah kejenuhan belaka, melainkan
didasari dengan dalil-dalil nash yang keterangannya sudah sering didengar dari
pengajian-pengajian yang dilakukan oleh para tokoh agama.
Mereka-mereka
yang tidak memahami betapa indah dan menyenangkannya Islam, pastinya akan
terkesan kaku dan terlihat memberatkan. Islam bukanlah agama yang isinya melulu
tentang shalat, zakat, puasa, dan haji walaupun hal itu merupakan inti dari
Islam atau rukun Islam, akan tetapi lebih dari itu.
Plularisme Bukan Sebuah
Kebetulan
Kita
kembali pada masalah toleransi Banser jaga Gereja. Relitanya kita adalah orang
Indonesia yang ditakdirkan beragama Islam, bukan orang Islam yang berada di
Indonesia. Sedangkan kita tahu Indonesia merupakan negara yang masyarakatnya
plural. Indonesia lahir melalui proses yang tidak sebentar, yakni melawan
penjajah yang dilakukan oleh seluruh rakyat Indonesia, baik muslim maupun non
muslim.
Pluralisme
di Indonesia bukan sebuah kebetulan, ini terbentuk atas dasar takdir dan
memiliki banyak hikmah yang perlu digali dan dipelajari. Bukankah Allah
menjadikan kita di dunia ini dengan dua jenis kelamin yang berbeda dan
bermacam-macam suku dan kabilah supaya untuk saling mengenal satu sama lain.
Negara
ini adalah bentuk rahmat dari Allah lewat perjuangan berat yang dilakukan oleh
rakyat Indonesia, dan itu tertulis dalam pembukaan UUD 45. Oleh karenanya bukan
sebuah kesalahan apabila kita harus menjaga keutuhan NKRI dengan cara menguatkan
tali kesatuan seluruh rakyat Indonesia tanpa terkecuali, baik yang beragama
Islam maupun non Islam.
Dalam
Al-Quran pada surat Al-Hajj dijelaskan bahwa seandainya Allah tidak menolak
keganasan sebagian manusia dengan sebagian yang lain, tentu telah dirobohkan
biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadah Orang yahudi, dan
masjid-masjid yang didalamnya banyak disebut nama Allah, tetapi kenyataannya
saat ini semua rumah agama, baik agama Islam atau non Islam tetap berdiri
kokoh. Itu berarti Allah memang menolak orang-orang untuk saling menghancurkan.
Menjaga
hubungan baik dengan sesama manusia di dunia, juga merupakan bagian dari ajaran
agama Islam, bukan malah menebar permusuhan. Islam datang dengan membawa rahmat
bukan kebencian. Oleh karena itu jika ada orang yang menebar kebencian diantara
agama-agama dengan mengatas namakan Islam perlu diragukan pemahamannya tentang
Islam.
Jadi
ketika Banser melakukan penjagaan terhadap gereja, itu bukan sebuah kekeliruan
dan juga bukan sebuah keharusan. Menjaga gereja demi menjaga keutuhan negara
itu sama dengan menjaga negara, dan menjaga negara merupakan salah satu bentuk
dari hubbu al-wathon dan hubbu
al-wathon adalah sebagian dari iman, tetapi tidak harus berupa menjaga
disekeliling bangunan gereja.
Komentar
Posting Komentar