Cap Go Meh Bukan Ritual Keagamaan
Cap Go Meh Bukan
Ritual Keagamaan
Oleh : Mukhamad Ali Masruri
Mungkin atau memang realitanya,
mayoritas orang menganggap perayaan cap go meh adalah salah satu dari
bentuk perayaan keagamaan masyarakat tiong hoa, padahal bukan. Hal ini dijelaskan oleh Marga Singgih, seorang
pengurus Tridarma dan pengamat budaya tiong hoa.
Singgih dengan membawa etnis tiong
hoa dan semangat persatuan bangsa,
berapi-api mengatakan bahwa cap go meh merupakan macam budaya masyarakat
tiong hoa yang tidak ada kaitanya dengan
keagamaan, cap artinya sepuluh, go berarti lima dan meh
adalah malam, maka cap go meh adalah
perayaan malam purnama tanggal 15 yang pertama pada tahun baru imlek.
Maksudnya perayaan cap go meh dilaksanakan
bertujuan untuk mempererat persatuan bangsa Indonesia, dengan menghilangkan ego
sentris yang dapat menyulut api perpecahan, dan tidak ada hubungannya
dengan ritual ibadah kegamaan etnis tiong hoa.
Pada
awalnya cukup meragukan ucapan yang dilontarkan oleh Singgih pada saat
perayaan cap go meh didepan balai
kota Semarang pada tahun 2017 itu, apakah memang sebuah realita yang
sesungguhnya, atau merupakan ungkapan
politik untuk mengangkat etnis mereka di Indonesia, apalagi bertepatan dengan
pilkada serentak yang mana orang tiong hoa memang sedang mengibarkan sayap
dalam dunia perpolitikan di Indonesia.
Akan tetapi ketika mengamati acara demi acara yang dilaksanakan pada
perayaan cap go meh didepan balai kota memang tidak terdapat ritual-ritual agama Khonghucu seperti menyalakan dupa dan sembahyang
pemujaan terhadap arwah atau dewa. Dalam
acara cap go meh mereka menampilkan kesenian budaya khas tiong hoa
seperti barong sai, tarian dan nyanyian, bahkan mereka juga menyanyikan
lagu-lagu orang jawa seperti prahu
layar dan gundul-gundul pacul.
Cap Go Meh atau Pekerjaan
Ada hal yang dikira cukup
aneh pada acara perayaan cap go meh di depan
balai kota Semarang ini, setelah saya
sapukan pandangan mata kesemua penonton dengan berjalan-jalan sebentar, ternyata lebih banyak dijumpai
orang jawa dari pada orang cina, dan kemungkinan
lebih banyak orang muslimnya dari pada orang Khonghucu tiong hoa, itu terlihat
dari banyaknya orang yang datang
kemasjid balai kota untuk menjalankan Sholat maghrib.
Lebih aneh lagi pada pertengahan
acara tepatnya pukul 09:25 yang terlihat pada pengunjung perempuan acara cap
go meh bisa dikatakan mereka yang memakai jilbab. Gadis-gadis cantik
berkulit kuning langsat khas tiong hoa tidak terlihat lagi berikut para
laki-lakinya. Ternyata tanpa saya sadari mereka telah meninggalkan acara,
padahal acara masih panjang. Hal ini yang membuat saya yakin bahwa cap go
meh memang bukan acara sakral
keagamaan Khonghucu.
Pemandangan tersebut membuat saya
berpikir mereka orang tiong hoa meninggalkan acara cap go meh karena menjaga stamina demi terjaganya
kedisiplinan mereka dalam menjaga etos kerja pada esok harinya. Berbeda dengan
orang jawa memang terbiasa santai dalam urusan pekerjaan kalau kata orang jawa mangan
rak mangan seng penteng kumpul.
Komentar
Posting Komentar