Turki Utsmani




       BAB I
       Pendahuluan
       A. Latar Belakang
Kerajaan Turki Utsmani adalah kerajaan besar yang memiliki waktu kejayaan yang cukup lama yakni 643 tahun dan telah menampilkan 36 orang sultan. Mula-mula setelah terjadi penyerbuan pasukan Mongol di bawah pimpinan Hulagu Khan yang telah berhasil menghancurkan kota Baghdad di Iraq dan hal ini merupakan akhir dari Daulah Bani Abbasiyah. Kehancuran Baghdad merupakan akhir kekuatan politik Islam yang selama ini telah memegang peranan penting dalam mewujudkan kebudayaan dan peradaban dunia.
Selanjutnya, politik umat Islam mulai mengalami kemajuan kembali setelah berdiri dan berkembangnya tiga kerajaan besar yaitu: Pertama, Utsmani di Turki Kedua, Mughol di India Ketiga, Safawi di Persia yang menjadikan Syi’ah sebagai madzhab negaranya.[1]
Para pemimpin pertama Utsmani mirip dengan pemimpin Ghazi, tetapi di Istambul, para sultan membentuk monarki absolut, mirip dengan model Byzantium. Kerajaan dinasti Utsmani berada diantara dua musuh besarnya, di sebelah barat mereka menghadapi kerajaan Kriten dan di sebelah timur menghadapi Safawi Syi’ah. Utsmani menjadi kelompok yang sama bahayanya dengan Safawi dan juga pernah terjadi pembantaian Syi’ah yang hidup di wilayah Utsmani.[2]

Rumusan Masalah
1.      Kapan Berdirinya Turki Utsmani ?
2.      Siapa Sajakah Para Khalifah Dinasti Utsmani?
3.      Bagaimana Peradaban Islam Pada Dinasti Utsmani?
4.      Apakah Faktor-faktor yang menyebabkan kemunduran dinasti Utsmani

BAB II
 PEMBAHASAN
A.    Berdirinya Turki Utsmani (1288-1924 M)
Kata Utsmani sendiri diambil dari nama pendiri pertama dinasti ini Utsman ibn Erthogril ibn Sulaiman Syah dari suku Qayigh Oghus Turki. Sulaiman Syah dengan seribu pengikutnya mengembara ke Anatholia di Azerbaijan, namun sebelum sampai ke tujuan, ia meninggal. Kedudukanya digantikan oleh puteranya yaitu Erthogril unntuk melanjutkan perjalanan sesuai tujuan semula.[3]
Dalam literatur lain disebutkan bahwa Sulaiman Syah memiliki empat anak yakni Shunkur, Gundogdur, al-Thugril, dan Dundar. Disini dikatakan bahwa Sulaiman Syah meninggal saat menyeberangi sungai Efrat (dekat Allepo).[4]
Kesultanan turki utsmani berdiri setelah hancurnya turki seljuk yang telah berkuasa selama kurang lebih 250 tahun (1055-1300).[5] Turki utsmani didirikan oleh bangsa Turki dari kabilah Oghuz yang mendiami daerah Mongol dan daerah Utara Cina, yang kemudian menyebar ke Turki, Persia, dan Irak. Mereka mulai mengenal dan memeluk Islam sekitar abad 9 atau 10, yaitu ketika menetap di Asia Tengah.
Akibat tekanan dari bangsa Mongol, mereka mencari perlindungan kepada penguasa Dinasti Seljuk. Ketika itu, Dinasti Seljuk berada di bawah kekuasaan Sultan Alauddin Kaikobad. Erthoghul yang merupakan pimpinan Turki Ustmani berhasil membantu Sultan Seljuk dalam menghadapi serangan masukan Bizantium. Atas jasa inilah, ia mendapat penghargaan dari Sultan berupa sebidang tanah di Asia kecil yang berbatasan dengan Bizantium. Sejak itu, mereka terus membangun wilayah barunya. Selain itu, Erthoghul juga diberikan wewenang untuk memperluas wilayahnya.
Setelah Erthoghul meninggal, kedudukannya sebagai pimpinan Turki Utsmani digantika oleh putranya, Utsman. Ketika Dinasti Seljuk dikalahkan oleh bangsa Mongol dan terpecah menjadi dinasti-dinasti kecil, Utsman mulai membangun kekuasaan dan memisahkan diri dari Dinasti Seljuk sekaligus memproklamasikan berdirinya kerajaan Turki Utsmani. Inilah asal mula sehingga Dinasti dikenal dengan Dinasti Utsmani. Dengan demikian putera Erthoghul adalah pendiri Dinasti Utsmani yang sesungguhnya.[6] Sebagai penguasa pertama, ia disebut sebagai Utsman I yang memerintah pada tahun 1290-1326 Masehi.

B.     Para Khalifah Dinasti Utsmani
Gelar bagi penguasa Usmani adalah Padsyah atau Sultan. Gelar tersebut menandai kaitannya dengan tradisi kerajaan Persia. Akan tetapi, dia juga ahli waris tradisi Islam. Dan dapat mengklaim sebagai pelaksana otoritas yang absah dalam terma-terma Islam. Seperti yang telah disebutkan dalam pendahuluan bahwasanya jumlah sultan atau khalifah dinasti Utsmani adalah 36, yakni
No
Nama
Lahir-meninggal
Masa Pemerintahan
1
Utsman I
1258-1323/1324
1300-1326
2
Orkhan
1288-1359
1326-1359
3
Murad I
1326-Juni 1389
1359-1389
4
Bayazid I
1360-8 Maret 1403
1389-1403
5
Muhammad I
1379-26 Mei 1421
1403-1421
6
Murad II
1403-3 Februari 1451
1421-1451
7
Muhammad II
1432-3 Mei 1481
1451-1481
8
Bayazid II
1447-26 Mei 1512
1481-1512
9
Salim I
1466-22 Sep. 1520
1512-1520
10
Sulaiman I
1494-5 Sep. 1566
1520-1566
11
Salim II
1524-13 Des. 1574
1566-1574
12
Murad III
1546-14 Jan. 1595
1574-1595
13
Muhammad III
1566-22 Des. 1617
1595-1603
14
Ahmad I
1590-22 Nov. 1617
1603-1617
15
Musthafa I
1592-20 Jan. 1639
1617-1618
16
Utsman II
1604-20 Mei 1622
1618-1622
17
Musthafa II
1592-20 Jan. 1639
1622-1623
18
Murad IV
1612-9 Feb. 1640
1623-1640
19
Ibrahim
1615-18 Agust. 1648
1640-1648
20
Muhammad IV
1642-6 Jan. 1693
1648-1687
21
Sulaiman II
1642-23 Jun. 1691
1687-1691
22
Ahmad II
1642-8 Feb. 1693
1691-1695
23
Musthafa III
1664-29 Des. 1703
1695-1703
24
Ahmad III
1673-Juni 1937
1703-1730
25
Mahmud I
1696-16 Des. 1754
1730-1754
26
Utsman III
1699-30 Okt. 1757
1754-1757
27
Musthafa IV
1717-21 Jan. 1774
1757-1773
28
Abdul Hamid I
1725-7 April 1789
1773-1789
29
Salim III
1761-29 Juli 1808
1773-1807
30
Musthafa V
1774-16 Nov. 1808
1807-1808
31
Mahmud II
1784-1 Juli 1839
1808-1839
32
Abdul Majid
1823-24 Juni 1861
1839-1861
33
Abdul Aziz
1830-4 Juni 1876
1861-1876
34
Abdul Hamid II
1842-10 Feb. 1918
1876-1909
35
Muhammad V
1844-2 Juli 1918
1909-1918
36
Muhammad VI
1861-15 Mei 1926
1918-1923

Setelah Utsman menjadi khalifah, ia mulai melakukan perluasan wilayah. Peristiwa ini berlangsung paling tidak sampai pada masa kepemerintahan sultan Sulaiman I. Orkhan berhasil membentuk pasukan yang dikenal dengan Janissari. Dengan pasukan tersebut Orkhan berhasil menaklukan negeri-negeri non-Muslim seperti Broessa (Turki), Izmir (Asia kecil), dan Ankara.[7]
C.    Peradaban Islam Pada Dinasti Utsmani
Salah satu bentuk peradaban dinasti Utsmani adalah pada masa pemerintahan sulatan Muhammad Al-Fatih, Yaitu bentuk perhatian terhadap akademik dan sekolah. Ia melakukan pemerataan sekolah-sekolah dan akademi-akademi di kota-kota besar ataupun kecil. Untuk itu dia mewakafkan hartanya dalam jumlah yang besar. Dia mengorganisir sekolah-sekolah dan mengaturnya dalam jenjang dan tingkatan-tingkatan, lalu disusunlah kurikulum, serta ditentukan pula ilmu-ilmu yang harus diajarkan disetiap level. Selain disusun sistem ujian untuk semua siswa.
Selain itu, adalah kepedulianya terhadap ulama’ dan sang Sultan sangat mengangkat posisi mereka dan mendorongnya untuk melakukan hal-hal yang baik produktif.
Sultan Al-Fatih menaruh perhatian yang besar terhadap kesusastraan secara umum, khususnya syair. Dia banyak berteman dengan banyak penyair dan memilih diantara mereka.[8]
Muhammad Al- Fatih mengingkari semua bentuk sastra hedonis dan tidak etis. Dia tidak segan-segan akan memberi hukuman kepada siapa saja yang keluar dari sopan santun berseni dengan memasukannya ke dalam penjara atau di keluarkan dari lingkungan istana.
Pada masa ini muncul sastrawan-sastrawan dengan hasil karya-karyanya setelah menamatkan studi di luar negeri. Diantaranya Ibrahim Shinasi pendiri surat kabar Tasviri Efkyar. Diantara karyanya yang dihasilkan adalah The Poets Wedding (komedi). Nama lainya adalah Namik Kemal dengan karyanya Fatherland atau Silistria. Selain itu juga terdapat Ahmad Midhat dengan Entertaining Tales dan Mahmed Taufiq dengan Year in Istambul.
Sultan menguasai dengan baik bahasa Romawi. Agar muncul kebangkitan pemikiran di kalangan rakyatnya, dia memerintahkan untuk menerjemahkan khazanah-khazanah lama dari bahasa Yunani, latin, Persia dan Arab ke dalam bahasa Turki. Salah satu buku yang di terjemahkan itu adalah Masyahir Al-Rijal (orang-orang terkenal) karya Poltark. Buku lainnya yang di terjemahkan ke dalam bahasa Turki adalah buku karangan Abu Al- Qasim Al- Zaharawi Al- Andalusi, seorang ahi kedokteran yang berjudul Al-Tashrif fi Al- thibbi.
Sultan Muhammad Al-Fatih sangat perhatian dengan pembangunan masjid, akademi, istana, rumah sakit, toko-toko, WC, pasar-pasar besar, dan taman-taman umum. Dia mengalirkan air ke dalam kota menggunakan jembatan-jembatan khusus. Dia mendorong para menterinya dan para pejabat teras pemerintah, orang-orang kaya dan orang-orang yang terpandang untuk membangun perumahan-perumahan, toko-toko, WC dan lain-lain yang membuat kota menjadi indah dan megah.  AL-Fatih sangat memperhatikan Ibu Kota Istanbul dengan perhatian yang sangat khusus dan berambisi untuk menjadikan Istanbul sebagai ‘Ibu Kota Terindah di Dunia’ dan pusat ilmu pengetahuan dan seni.[9]
Bidang-bidang seni dan arsitektur yang muncul pada masa dinasti Utsmani sangatlah beragam seperti bentuk kubah masjid, seni bangunan, kaligrafi, interior design, painting, dan cover buku.
Pemerintahan dinasti Utsmani juga bersikap liberal dan pemurah terhadap penduduk yang beragama kristen. Mereka melakukan administrasi pemerintahan yang adil di samping menggiatkan ekonomi dengan menganjurkan perdagangan di antara mereka.
Dengan adanya kondisi objektif yang dihadapi Turki Utsmani, para pemimpin mewujudkan pemerintahan yang berdasarkan sistem dan prinsip kemiliteran. Bentuk kerajaan Turki Utsmani didasarkan pasa sistem feodal yang meniru langsung dari kerajaan Romawi Timur. Sultan adalah penguasa tertinggi.[10]
Keistimewaan yang paling menonjol dari periode ini adalah berakarnya ruh taklid dalam jiwa dan hati para ulama, sehingga tidak kita jumpai dalam kalangan mereka yang jiwanya telah membubung ketingkat ijtihad kecuali sedikit sekali, dan itu berlaku dalam bagian pertama dari periode ini.[11]

D.    Faktor-faktor yang menyebabkan kemunduran dinasti Utsmani
Pada awalnya pemerintahan, dinasti Turki Utsmani sangat memegang teguh dan menjalankan prinsip ajaran yang melarang orang mu’min untuk menjadikan orang-orang kafir sebagai wali atau khalifah. Akan tetapi di masa-masa akhir pemerintahannya khususnya abad ketiga belas dan keempat belas Hijriyah mulai terjadi penyimpangan terhadap prinsip awal.
Para penguasa bersikap lemah terhadap musuh dan menjadikan kaum kafir sebagai pemimpin dan tidak menjadikan kaum mu’min sebagai pemimpin mereka. Dimana orang-orang kafir itu memang memiliki kekuatan materi yang demikian kuat dan banyak, sedangkan kaum muslimin dalam posisi sebaliknya. Posisi umat Islam yang menyedihkan ini telah mengguncang akidah umat Islam.[12]
Terjadinya kemunduran militer yang pertama pada perang Lepanto tahun 1571 yang disebut pertempuran terbesar yang perjadi di Mediterania.
Terjerat dalam konflik di beberapa wilayah dengan Habsburg, dan Iran pada akhir abad 16 sampai awal abad 17, kemudian pada abad ke 17 dengan Rusia, Polandia dan Venesia.
Rakyat Turki melalui wakil-wakilnya mengeluarkan piagam nasional (al-Mitsaq al-Wathoni). Saat itu Turki menjadi negara sendiri terpisah dari wilayah-wilayah yang dulunya merupakan daerah kekuasaan Dinasti Utsmani.
Musthafa Kemal pada anggota Majelis Nasional Agung bahwa pemerintah nasional didasarkan pada prinsip pokok kerakyatan, yang berarti bahwa kedaulan dan semua kekuatan administrasi harus langsung diberikan kepada rakyat, konsekuensi logis dari prinsip ini terhapusnya kesultanan dan kekhalifahan.
Kesultanan dihapuskan pada tanggal 1 Nopember 1922, dengan undang-undang yang disahkan oleh Majelis Nasional Agung setelah melalui perdebatan yang panjang.
Pada tahun 1923, disepakatilah berdirinya negara Turki dengan batas-batas wilayah seperti saat ini, dengan pemimpin pertama Musthafa Kemal. Ia melakukan modernisasi besar-besaran dengan berkiblat kebarat. Ia mengganti penggunaan huruf Arab dengan Latin, poligami dilarang dan wanita diberi kebebasan yang sama dengan pria. Kemal pun memperoleh gelar Bapak Turki.[13]



















BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Kesultanan turki utsmani berdiri setelah hancurnya turki seljuk yang telah berkuasa selama kurang lebih 250 tahun (1055-1300).[14] Erthoghul yang merupakan pimpinan Turki Ustmani berhasil membantu Sultan Seljuk dalam menghadapi serangan masukan Bizantium. Atas jasa inilah, ia mendapat penghargaan dari Sultan berupa sebidang tanah di Asia kecil yang berbatasan dengan Bizantium.
Setelah Erthoghul meninggal, kedudukannya sebagai pimpinan Turki Utsmani digantika oleh putranya, Utsman. Ketika Dinasti Seljuk dikalahkan oleh bangsa Mongol dan terpecah menjadi dinasti-dinasti kecil, Utsman mulai membangun kekuasaan dan memisahkan diri dari Dinasti Seljuk sekaligus memproklamasikan berdirinya kerajaan Turki Utsmani.
Pada masa dinasti Utsmani peradaban Islam mulai mengalami kenaikan kembali setelah kemunduran ketika dinasti Abbasiyah runtuh, seperti pendidikan, sastra, pembangunan, maupun seni.
Terjadinya kemunduran militer yang pertama pada perang Lepanto tahun 1571 yang disebut pertempuran terbesar yang perjadi di Mediterania.Terjerat dalam konflik di beberapa wilayah dengan Habsburg, dan Iran pada akhir abad 16 sampai awal abad 17, kemudian pada abad ke 17 dengan Rusia, Polandia dan Venesia.
  Rakyat Turki melalui wakil-wakilnya mengeluarkan piagam nasional (al-Mitsaq al-Wathoni). Saat itu Turki menjadi negara sendiri terpisah dari wilayah-wilayah yang dulunya merupakan daerah kekuasaan Dinasti Utsmani.



DAFTAR PUSTAKA
Syaefudin Machfud, dkk. 2013. Yogyakarta, Pustaka Ilmu Yogyakarta Dinamika Peradaban Islam Perspektif Historis.
Amstrong. Karen, 2002. Yogyakarta. Ikon Teralitera. Islam: A. Short History (Sepintas Sejarah Islam).
Karim. M. Abdul. 2017. Yogyakarta, Pustaka Book Publiser. Sejarah Pemikiran dan Peradaban.
Ash-Shalabi. Ali Muhammad. 2004. Jakarta, Pustaka Al-Kautsar Bangkit dan Runtuhnya Khilafah Utsmaniyah.
Hourani. Albert. 2004. Bandung, PT Mizan Pustaka. Sejarah Bangsa-bangsa Muslim.
Hasjmi. A. Jakarta. 1979. Bulan Bintang. Sejarah Kebudayan Islam.





[1] Machfud Syaefudin, dkk. Dinamika Peradaban Islam Perspektif Historis.(Yogyakarta, Pustaka Ilmu Yogyakarta. 2013) hlm 183
[2] Karen Amstrong, Islam: A. Short History (Sepintas Sejarah Islam). (Yogyakarta, Ikon Teralitera, 2002) hlm 153
[3]Machfud Syaefudin, dkk. Dinamika Peradaban Islam Perspektif Historis.(Yogyakarta, Pustaka Ilmu Yogyakarta. 2013) hlm. 184
[4]M. Abdul Karim. Sejarah Pemikiran dan Peradaban. (Yogyakarta, Pustaka Book Publiser. 2017)hlm. 310
[5] Abdul Syukur Al- Azizi. Kitab Sejarah Peradaban Islam Terlengkap. Saufa.hlm.409
[6] Abdul Syukur Al- Azizi. Kitab Sejarah Peradaban Islam Terlengkap. Saufa.hlm.409

[7] Machfud Syaefudin, dkk. Dinamika Peradaban Islam Perspektif Historis.(Yogyakarta, Pustaka Ilmu Yogyakarta. 2013) hlm. 187
[8]Ali Muhammad Ash-Shalabi, Bangkit dan Runtuhnya Khilafah Utsmaniyah.(Jakarta, Pustaka Al-Kautsar 2004)hlm.  179-183
[9] Albert Hourani, Sejarah Bangsa-bangsa Muslim. (Bandung, PT Mizan Pustaka, 2004)hlm. 422
[10] Machfud Syaefudin, dkk. Dinamika Peradaban Islam Perspektif Historis.(Yogyakarta, Pustaka Ilmu Yogyakarta. 2013) hlm. 191-193
[11] A. Hasjmi, Sejarah Kebudayan Islam, (Jakarta, Bulan Bintang, 1979) hlm, 439
[12]Ali Muhammad Ash-Shalabi, Bangkit dan Runtuhnya Khilafah Utsmaniyah.(Jakarta, Pustaka Al-Kautsar 2004)hlm. 183-185
[13] Machfud Syaefudin, dkk. Dinamika Peradaban Islam Perspektif Historis.(Yogyakarta, Pustaka Ilmu Yogyakarta. 2013) hlm.201-202
[14] Abdul Syukur Al- Azizi. Kitab Sejarah Peradaban Islam Terlengkap. Saufa.hlm.409

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ijtihad Masa Sahabat

Liberal Ala Aswaja

Paradigma Hukum Progresif Dalam pencegahan Kejahatan Seksual